Beranda Nasional Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua

Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua

99
0
BAGIKAN
Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua (kataindo.com)
Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua (kataindo.com)
JAKARTA- Ubedilah Badrun Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menilai Calon Presiden (Capres) nomor urut 01 itu terlalu banyak menyampaikan data yang keliru pada Debat Capres putaran kedua.
“Dalam debat capres kedua ini, Jokowi sebagai petahana sangat banyak menyebutkan data. Namun setelah debat usai, sejumlah media yang melakukan fact check, ditemukan banyak data yang keliru,” papar Ubedilah Badrun, Senin 18 Februari 2019.
Analis sosial politik itu mencontohkan, Presiden Petahana itu mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini tak ada kebakaran hutan. Namun, menurut sumber Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2018) mengatakan bahwa pada tahun 2016 terdapat kebakaran hutan mencapai 14.604,84 hektare.
“Pada tahun 2017 terdapat kebakaran hutan seluas 11.127,49 hektar dan di tahun 2018 terdapat kebakaran hutan seluas 4.666,39 hektare,” kata Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu.
Dalam pemaparan visi dan misi, Presiden Petahana itu mengaku, bahwa selama tiga tahun terakhir ini tidak pernah ada kebakaran hutan ataupun kebakaran gambut.
“Kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi, Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya,” ujar Capres nomor urut 01 itu.
Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua (kataindo.com)
Jokowi Dinilai Banyak Berbohong Saat Debat Capres Kedua (kataindo.com)
“Dan kami ingin mengurangi sampah di sungai dan laut,” ujarnya.
Data keliru, seperti di sampaikan Ubedilah Badrun itu juga ditemukan saat Presiden Petahana mengatakan bahwa di tahun 2014 kita masih impor jagung sebesar 3,5 juta ton dan tahun 2018 hanya impor 180.000 ton.
“Saya sampaikan terima kasih pada petani jagung, Pada tahun 2014, kita impor 3,5 juta ton jagung, Pada tahun 2018 hanya impor 180.000 ton jagung, artinya ada produksi 3,3 juta ton,” papar Jokowi.
Ubedilah Badrun menegaskan, Padahal faktanya berdasarkan sumber Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 dikatakan bahwa Indonesia mengimpor Jagung sebanyak 737.220 ton jagung.
Menurut Ubedilah Badrun, kekeliruan data yang disampaikan Capres nomor urut 01 itu bisa menjadi ‘pukulan balik’ dari Prabowo Subianto. Karena, Prabowo Subianto menilai Capres nomor urut 01 itu sudah menggunakan data yang bohong.

“Jika pukulan balik Prabowo Subianto ini dil akukan, maka bisa saja menggerus elektoral Presiden Petahana,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here