Beranda Pendidikan Mahasiswa Ini Memiliki Hobi Yang Cukup Ekstrem

Mahasiswa Ini Memiliki Hobi Yang Cukup Ekstrem

164
0
BAGIKAN

Hobi selalu berhubungan dengan hal yang unik. Mulai dari olahraga, mengkoleksi barang dan lainnya. Seperti seorang mahasiswa di Universitas Lancang Kuning bernama Muamar Masidah ini. Pemuda yang akrab disapa Amar ini, mempunyai hobi yang cukup ekstrem. Ia suka memelihara hewan mematikan seperti ular. Salah satu peliharaan berbisanya itu ialah jenis King Kobra yang panjangnya mencapai empat meter.

Mahasiswa Ini Memiliki Hobi Yang Cukup Ekstrem

Saat dijumpai di ‎rumah kontrakannya di Jalan Umban Sari, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Riau. Pria berusia 25 tahun tersebut tampak tidak merasa takut saat mengeluarkan reptil dengan nama latin Ophiophagus Hannah dari kandangnya.

Amar mulai memelihara King Cobra itu sejak empat bulan lalu, Ular itu di dapatnya di Kabupaten Pelalawan. Tak ada rasa canggung, karena Amar sudah mengganggap ular ini sebagai sahabat.

Pun demikian, Amar tetap memperhatikan jarak ketika membelai sang Raja Cobra. Sesekali Amar berusaha mengelak ketika peliharaanya itu bersiap mematok.

Nyawa tentu saja menjadi taruhan Amar bermain dengan ular ini. Di mulut ular itu terlihat sepasang taring berbisa yang mengeluarkan cairan racun mematikan. Bagi orang yang terkena racunnya, bisa kehilangan nyawa.

“Nih lihat masih ada taringnya. Tu lihat bisanya keluar yang warna kuning,” kata Amar, Selasa (10/4).

Beberapa atraksi ditunjukkan Amar. Ia memainkan ular mematikan itu. Mulai dari saling tatap, memegang kepala, mengangkat hingga menciumnya.

Tak ayal, atraksi yang dilakukannya menjadi tontonan warga sekitar. Rumahnya yang terletak di pinggir jalan membuat warga yang melintas menyempatkan diri untuk berhenti hanya sekedar melihat adegannya dengan si King Cobra.

“Baru ditangkap ya, dari mana dapatnya. Asli gak ularnya tu, masih berbisa gak tu?” tanya Dermawan.

‎Menurut Amar yang lahir di Solo, Jawa Tengah ini, ular peliharaan tak boleh dicabut taringnya. Mencabut sama halnya dengan membunuh ular secara perlahan.

Kata Amar, taring itu berfungsi mendorong makanan yang dilahap ulat secara bulat-bulat. Tanpa itu, ulat tak bisa makan dan akhirnya mati secara perlahan. “Ular akan mati tanpa taring,” sebut mahasiswa semester delapan ini.

King Cobra ini merupakan ular kedua dengan jenis yang sama dari ‎belasan ular yang pernah dipeliharanya. Di kontrakannya, ada belasan ular berukuran beda dan jenis beragam. Mulai ular derik, piton dan berbagai jenis ular lainnya.

Ia juga memiliki beberapa koleksi ular mati yang diawetkan. Serta beberapa kulit ular hasil pergantian kulit baru. Semua hal itu dilakukannya karena kecintaan pada reptil.

Untuk merawat ulat ini, Amar mengeluarkan biaya sendiri. Ular ini biasanya dikasih potongan ayam, tikus dan cicak. “Biasanya cicak dikasih kepada ular yang berukuran kecil,” kata Amar sembari menunjuk koleksi ular kecilnya.

Beberapa tahun lalu, Amar yang besar di Pelalawan pernah memelihara ular serupa. Hanya saja, ular itu mati karena luka di badannya tak kunjung sembuh akibat jeratan di hutan.

“Kalau ada ular terjerat, harus cepat diselamatkan. Tak boleh sampai sehari, bisa mati. Ituklah yang terjadi pada King Kobra pertama saya, terjerat dan terluka. Lukanya tak sembuh meski sudah diobati,” tukasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here